Perbaikan jalan di Banyumas



workshop ngeblog dapat uang

Setiap musim penghujan datang maka jalan banyak yang rusak, berlubang, begitu juga di Banyumas. Kolom SMS di surat kabar lokal terkadang penuh dengan permohonan maupun perintah untuk perbaikan suatu jalan, di Banyumas. Tentu saja tidak ketinggalan kemarahan akibat jalan yang rusak.

Perbaikan jalan Gatot Subroto Banyumas April 2009

Postingan ini tidak akan membahas jalan yang rusak karena galian operator maupun PDAM :-)

Dalam obrolan santai, mantan pekerja di DPU (departemen pekerjaan umum / sekarang jadi kementerian PU ?) mengatakan bahwa aspal takutnya sama air. Untuk itu seharusnya pembuatan jalan dibuat agar air tidak berlama-lama mengenai aspal ,  langsung terbuang ke kanan dan ke kiri  jalan. Di kanan kiri jalan juga tersedia saluran air untuk pembuangan agar tidak ada genangan. Hal ini bisa kita jumpai di beberapa kota yang saluran drainasenya baik. Bagaimana dengan di Banyumas ?

Mari kita lihat Purwokerto sebagai ibukota kabupaten Banyumas. Jalan protokol terutama jalan jend Sudirman terlihat halus dan rata. Tunggu, ternyata jalan jend Sudirman Timur (dari bundaran air mancur hingga bundaran patung Gatot Subroto  naik kuda) sering terlihat banyak lobang dan bekas tambalan. bila diperhatikan saat hujan sering terlihat genangan air, yang akhirnya tentu saja berpengaruh pada aspal jalan ini. Jalan yang sering berlubang  di Purwokerto diantaranya adalah jalan Gerilya. Ini wajar , mengingat truk dan bis memang sering melewati jalan ini.

Nah, bisa dibayangkan bila jalan di Ibukota kabupaten Banyumas banyak yang rusak apalagi di luar Ibukota kabupaten. Salah satu jalan yang sering dikeluhkan adalah Sokaraja-Buntu. Hal ini sering dikeluhkan bukan saja pengendara sepeda motor tetapi juga supir bis antar kota antar propinsi. Sepeda motor mungkin masih bisa menghindari lubang dengan lincah, tetapi bis, apalagi keadaan ramai, harus menerima ketika bis berguncang karena jalan berlubang.

Meski telah dilakukan penambalan dan perbaikan, jalan cepat sekali rusak, bahkan seorang pengguna jalan menulis di kolom sms surat kabar lokal dengan nada sinis ” Apakah menambalnya menggunakan gethuk, sehingga jalan telah berlubang lagi?”.

Masyarakat Banyumas dan pengguna jalan tentu tidak mau tahu apakah jalan yang rusak itu jalan nasional, jalan propinsi atau jalan kabupaten (Sokaraja -Buntu katanya jalan propinsi). Mereka tahunya jalan Sokaraja-Buntu rusak, dan itu berada di kabupaten Banyumas, maka Bupati Banyumas yang harus bertanggung jawab :-)   Bahkan sebagian masyarakat berargumentasi (saat obrolan warung kopi …eh ….angkringan kaya di yogya ), sama dengan dana masyarakat untuk pembangunan desa,  lingkungan RT /RW, dana itu ada, di atas sana, tapi harus diambil dulu, seakan menggunakan galah (dalam bahasa Banyumas di grethel)  berupa proposal, agar dana turun, untuk membangun/ memperbaiki jalan.  Bila dana tidak turun, maka berarti Bupati tidak pintar / tidak bisa meng-grethel dana untuk memperbaiki jalan…. ada-ada saja argumentasinya :-) namanya juga orang berpendapat toh ?

Sedangkan menurut pendapat saya jalan Sokaraja-Buntu yang tidak pernah halus disebabkan oleh beberapa hal

1. Tanah yang berupa bukit-bukit, menyebabkan tekanan pada tanah dibawah aspal tidak sama yang mengakibatkan aspal bergelombang. Ini juga menyebabkan air terkadang menggenang di lokasi tertentu yang mempercepat jalan aspal rusak.

2.Tanah yang bergerak, tidak keras, menyebabkan jalan aspal bergeser, retak, miring, mleyot. Bandingkan dengan jalan aspal di jalan datar yang relatif lebih awet, karena tanah di bawah aspal keras, tidak bergeser.

3. Kelebihan beban pada kendaraan pengangkut. Ini tentu lebih ditujukan untuk truk, bukan sepeda motor :-) Kelebihan beban pada kendaraan pengangkut, lagi -lagi menyebakan tekanan yang tidak merata pada aspal,  akibatnya jalan mleyot lalu rusak.

4 Kecepetan kendaraan. sebuah bis kosong pada tengah malam, dilajukan dengan cepat, saat melewati jalan yang tidak rata, menghasilkan getaran pada dinding rumah, 15 meter dari jalan. Bisa diperkirakan bahwa tekanan terhadap tanah di bawah aspal tentu sangat besar, yang akhirnya membuat jalan jadi mleyot .

Nah, bila jalan diperbaiki, ya pengguna jalan harus bersabar mengantre. Jangan mengomel, khan aneh, jalan rusak …..mengomel, jalan diperbaiki kok mengomel juga. Sabar ya … agar mereka  memperbaiki jalan  dengan cermat, agar jalan aspal awet, dan jalan mulus………

Related posts:

  1. Puluhan Pegawai Negeri Sipil kena Razia Satpol PP Di Banyumas, bagaimana mencegah terulangnya kejadian ini ? Harian Radar Banyumas, Jawa Pos Group, hari ini memberitakan 60...

Related posts brought to you by Yet Another Related Posts Plugin.

About the Author